Murji'ah & Mu'tazilah

Materi Pembelajaran

Materi

LATAR BELAKANG MUNCULNYA ALIRAN MU'TAZILAH

Aliran Mu'tazilah merupakan aliran teologi Islam yang terbesar dan tertua yang telah memainkan peranan penting dalam sejarah pemikiran dunia Islam. Aliran Mu'tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada persoalan-persoalan yang dibawa Kum Khawarij dan Murji'ah. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama "kaum rasionalis Islam".

Aliran Mu'tazilah muncul sekitar abad pertama Hijriah di kota Basrah yang ketika itu menjadi kota sentra ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, di samping itu aneka kebudayaan asing dan bermacam-macam agama bertemu di kota tersebut. Dengan demikian semakin luas dan banyaknya penganut Islam, semakin banyak pula musuh yang ingin menghancurkan Islam baik dari internal umat Islam secara politis maupun dari umat Islam secara dogmatis.  

Nama Mu'tazilah, secara harfiah berasal dari kata i'tazala atau I'tizal yang berarti memisahkan diri atau mengasingkan diri. Banyak pendapat dan teori dari berbagai literatur yang membahas tentang asal usul dan sebab penamaan aliran ini dengan Mu'tazilah :

  1. Berpusat pada peristiwa  yang terjadi antara Wasil Ibn 'Atha' serta temannya 'Amr Ibn 'Ubaid dan Hasan Al-Basri di Basrah. Wasil selalu mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan Hasan al-Basri di Masjid Basrah. Pada suatu hari datang seorang bertanya mengenai pendapatnya tentang orang yang berdosa besar. Sebagaimana diketahui kaum Khawarij memandang mereka kafir sedangnya kaum Murji'ah mereka tetap mukmin. Ketika Hasan Al-Basri masih berpikir, Wasil mengeluarkan pendapatna sendiri dengan mengatakan, "Saya berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir." Kemudian ia berdiri dan menjauhkan diri dari Hasan Al-Basri pergi ke tempat lain di masjid; di sana ia mengulangi pendapatnya kembali. Atas peristiwa ini Hasan Al-Basri mengatakan;"Wasil menjauhkan diri dari kita "I'tazala'anna.". dengan demikian ia serta teman-temannya disebut sebagai kaum Mu'tazilah.
  2. Menurut Al-Baghdadi : Wasil Ibn 'Atha' dan temannya, Amr bin Ubaid diusir oleh Hasan Al-Basri dari majelisnya karena pertikaian di antara mereka tentang masalah qadar dan orang yang berdosa besar. Keduanya menjauhkan diri dari Hasan Al-Basri dan berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak mukmin dan tidak pula kafir. Oleh karena itu, golongan ini dinamakan Mu'tazilah.
  3. Tasy Kubra Zadah menyebut bahwa Qatadah bin Da'amah pada suatu hari masuk ke masjid dan menuju majelis Amr bin Ubaid yang disangkanya adalah majelis Hasan Al-Basri. Setelah ia tahu ternyata itu bukan majelis yang ia tuju, ia berdiri dan meninggalkan tempat itu sambal berkata : "ini kaum Mu'tazilah" semenjak itu mereka disebut kaum Mu'tazilah.
  4. Al-Mas'udi memebrikan keterangan lain lagi, yaitu dengan tidak mempertalikan pemberian nama itu dengan Wasil dan Amr dari satu pihak dan Hasan Al-Basri dari pihak lain. Mereka disebut kaum Mu'tazilah karena mereka berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukan mukmin dan buka pula kafir tetapi mengambil posisi diantara dua posisi itu (al-manzilah baina al-manzilatain). Menurut versi ini mereka disebut kaum Mu'tazilah, karena mereka membuat orang yang berdosa besar jauh dari (dalam arti tidak masuk) golongan mukmin dan kafir.
  5. Sedangkan menurut Ahmad Amin, nama Mu'tazilah sudah terdapat sebelum peristiwa Wasil dengan Hasan Al-Basri dan sebelum timbulnya pendapat tentang posisi di antara dua posisi. Kalau itu dipakai sebagai penyebutan terhadap golongan orang-orang yang tak mau turut campur dalam pertikaian-pertikaian politik yang terjadi pada zaman Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka menjauhkan diri dari golongan-golongan yang saling bertikai. Golongan yang menjauhkan diri ini memang dijumpai di dalam buku-buku sejarah. Seperti yang terjadi ketika Qais Ibn Sa'ad sampai di Mesir sebagai Gubernur dari Ali bin Abi Thalib, ia menjumpai pertikaian di sana, satu golongan turut padanya dan satu golongan lagi menjauhkan diri ke Kharbita (I'tazalat ila Kharbita). Dalam suratnya kepada khalifah, Qais menamai mereka "mu'tazilin". Abu Al-Fida memakai kata "al-mu'tazilah". Jadi kata-kata "I'tzala" dan "mu'tazilah" telah dipakai kira-kira serratus tahun sebelum peristiwa Wasil dengan Hasan al-Basri, dalam arti golongan yang tidak mau turut campur dalam pertikaian politik yang ada di zaman mereka.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nama Mu'tazilah telah ada semenjak pemerintahan Khalifah Utsman dan pertentangan Khalifah Ali dengan Muawiyyah dalam masalah politik (tahkim). Nama Mu'tazilah yang diberikan kepada kaum yang memisahkan diri dari pertentangan politik dan lebih mendekatkan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan dan agama seperti dua orang cucu Nabi yakni Abu Hasyim Abdullah, Al-Hasan Ibn Muhammad Ibn Al-Hanafiyah disebut Mu'tazilah Pertama. Adapaun Wasil bin 'Atha' dan para pengikutnya yang memisahkan diri dari pemahaman gurunya tentang pembuat dosa besar disebut dengan Mu'tazilah kedua.

Perbedaan yang jelas dari kedua Mu'tazilah ini bisa dilihat dari keberadaan Mu'tazilah itu sendiri pada masanya. Mu'tazilah pertama lebih bercorak politik, Mu'tazilah kedua sudah menambahkan persoalan-persoalan teologi dan filsafat ke dalam ajaran dan pemikiran mereka.